Satu Ransel || Gunung Papandayan

Di hutan mati, ini tempat bagus untuk foto, bisa juga ambil view kawah

Finally saya ke Papandayan šŸ˜€ salah satu Gunung di Kabupaten Garut Jawa Barat. Ini daerah favorite banget. Dulu pernah pengen tinggal di daerah ini..

Jadi jalan-jalan kali ini sebenarnya ga ada rencana sama sekali. Dadakan banget. Awalnya saya dan beberapa teman kelas merencanakan ke Dieng, namun karena tidak ada kejelasan akhirnya saya memutuskan untuk bergabung ke Papandayan bersama Mb Hesti, Hudud, dan Brill.

Jangan bayangin gunung Papandayan itu seperti Gunung Merbabu, Sumbing atau Merapi dll. Ini gunung mungkin lebih tepat buat pendaki pemula. Si Brill aja bilang jogging track :’D . Makanya saya mau nanjak ke Papandayan karena emang ga terlalu tinggi jadi ga terlalu capek dan cukup lah untuk refreshing. Klo naik gunung yang benar-benar gunung untuk saat ini saya pensiun dulu dah, hehee. Saya bukan April yang dulu lagi, jaman masih kuliah di Jogja, yang addict banget sampai punya target naik gunung tiap tahun atau liburan atau intinya sesering mungkin naik gunung. Untuk saat ini sepertinya tidur saat libur kuliah itu lebih jadi prioritas wkwkk namun ga menutup kemungkinan juga saya bakal nanjak lagi klo lagi pengen. #nahkokjadicurhat Lanjut yaaa

Kami berangkat dari Tangerang sekitar habis Isya menggunakan grab 16.000/mobil menuju terminal bis Primajasa Ciputat. Disana kami memilih bis jurusan Garut yang berangkat sekitar pukul 22.00 wib dengan ongkos 52.000/orang. Tiba di Terminal Primajasa Garut sekitar jam 03.00 dini hari dan dilanjutkan naik angkot menuju daerah yang saya kurang tau namanya (pertigaan indomart) dengan ongkos 25.000/orang. Terus nyewa pick up 30.000/orang untuk 6 orang.

Waktu naik pick up tuh jalannya mulai nanjak, tapi ga senanjak jalan ke Sembalun, terus dingin banget udaranya tapi seger bener-bener dinginnya itu dari alam. Alhamdulillah sudah lama sekali saya tidak merasakan hawa dingin seperti ini. Sampai disana kami harus bayar lagi kalau tidak salah 20.000/orang untuk masuk kawasan Papandayan dan 35.000/orang untuk camp satu malam. Hmm mungkin sedikit mahal dibanding gunung lain. Tapi jangan ditanya fasilitasnya. Alhamdulillah sangat lengkap, sehingga friendly banget untuk pendaki pemula.

Depan pintu masuk

Di pintu masuk ada banyak penjual makanan jadi kami mampir isi perut sebentar. Oh ya disana ada gardu pandang juga, bagus banget viewnya untuk foto.

Di atas gardu pandang

Perjalanan pun dimulai. Melewati pintu masuk kami disambut pohon yang tingginya kurang lebih 3 m dengan daun yang lumayan lebat dan hijau. Jenis pohon ini banyak kami temukan di perjalanan menuju camp. Asli saya suka sekali dengan pohon ini, batangnya yang meliuk-liuk jarang sekali saya menemukan pohon seperti ini, trs ada bunganya juga kalau tidak salah warna putih dan ada buahnya kecil warna merah.

Selanjutnya kami melewati kawah. Baru masuk saja sudah ketemu kawah šŸ˜€ . Awalnya ga tahan sama bau belerangnya tapi lama-lama bisa adaptasi juga. Nah disini juga keren untuk foto.

Next. Berhenti sebentar di pos (berapa ya) sambil tanya-tanya sama securitynya. Sebenarnya ada dua jalur bisa langsung ke hutan mati atau ke Seladah (tempat camp). Kami memilih ke seladah dengan jalur mengelilingi bukit. Karena niat awal saya refreshing jadi saya mah selow aja jalannya, nikmatin viewnya, klo perlu foto ya foto, kalo pengen istirahat ya udah berhenti. Ini bukan di Merbabu yang butuh perjuangan extra untuk sampai puncak. Jadi nikmatin aja, anggap saja keliling taman nasional Papandayan.

Oh ya diperjalanan kami juga menemukan sungai kecil dengan bebatuan di pingirnya. Itu batu aslinya bagus warnanya, warna salmon sedikit pink gitu.

Ini foto hampir sampai di camp. Sedikit gelap sih mungkin karena pohon di tempat itu tinggi-tinggi.

Di tempat camp ketemu sama babi hutan yang kalau orang lokal bilangnya omen. Dan ini juga kali pertama saya lihat babi hutan secara langsung wkwk

Nah lanjut ke sunrise. Sebenernya udah telat sih, mataharinya sudah muncul dan mungkin ini bukan sunrise lagi, hahaa. Tapi ga masalah, jauh-jauh ke Papandayan sayang ga lihat sunrise. Dan sepertinya ini sunrise pertama yang saya lihat setelah pulang PKL hampir 6 bulan lalu setelah tiap dinas malem lihat sunrise di taman alat :’D

Next. Pulanggg. Jadi kami melewati taman eidelwais yang luasnya kurang lebih seluas dua petak sawah. Tak jauh dari taman eidelwais mungkin sekitar 20 menit kami sampai di hutan mati. Ini tempat gersang, tapi bagus banget untuk foto. Oh ya bisa lihat kawah juga dari tempat ini.

Dari tempat ini kami hanya memerlukan waktu kurang lebih satu setengah jam untuk sampai pintu masuk (saat mulai nanjak). Alhamdulillah akhirnya kami bisa kembali pulang dengan selamat.

Untuk perjalanan pulang ini kami menghabiskan 25.000/orang untuk ojek sampai pertigaan indomaret. Selanjutnya naik angkot 20.000/orang sampai terminal bus primajasa dan finally Garut-Lebak Bulus 52.000/orang. Alhamdulillah kami sampai kosan di Tangerang kurang lebih jam 21.00 wib

Sekian. Terimakasih sudah membaca postingan saya.

Other journey >>> My journey


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.