Book Review || Asyiknya Belajar di 5 Benua

37145982_231173050853014_2952483273730686976_n

Finally selesai juga baca Asyiknya Belajar di 5 Benua yang diterbitkan oleh Penerbit Ziyad Visi Mandiri. Kali ini saya akan sharing sedikit mengenai apa yang saya dapatkan dari buku ini dan tentunya bisa diterapkan dalam kehidupan pribadi saya sekarang atau lingkungan sekitar. Ah lebay.

Sebelum membaca buku ini, persepsi saya mengenai sistem pendidikan di luar negeri tentunya lebih bagus dari Indonesia namun saya belum tau bagaimana detail sistem disana. Hingga pada akhirnya saya merampungkan buku Asyiknya Belajar di 5 Benua ternyata luar biasa sistem yang digunakan. Sistem pendidikan yang mengedepankan ‘belajar itu asyik loh’ hingga muncul kesadaran bagi individu bahwa belajar itu adalah sebuah kebutuhan bukan paksaan. Terlepas dari sistem tentunya faktor internal untuk menumbuhkan semangat belajar juga penting. Sistem ini tentunya sangat bagus untuk diadopsi pada pendidikan Indonesia.

Jadi inti secara general dari beberapa negara yang saya dapatkan melalui buku ini adalah :

1. Anak-anak mulai belajar pada usia dini

Hampir di setiap negara (18 negara) yang dituliskan pada buku ini menerapkan pendidikan usia dini sejenis PAUD melalui preschool. Ada yang mulai umur 3 tahun, 2 tahun, bahkan 6 bulan. Menurut saya ini sangat penting, selain melatih anak untuk bersosialisasi juga sebagai masa transisi sehingga anak tidak akan kaget ketika masanya masuk primary school. Karena preschool ini belum masuk pada pendidikan wajib jadi beberapa negara menerapkan pembayaran namun ada juga yang mendapat subsidi pemerintah sehingga biaya yang dikeluarkan tidak terlalu membebani.

2. Menumbuhkan rasa keingintahuan

Ini penting banget menurut saya. Jadi, anak tidak akan merasa bahwa belajar itu sebuah keterpaksaan atau malah beban untuk sekedar menggugurkan kewajiban. Namun belajar itu untuk menambah wawasan, yang awalnya tidak tahu menjadi tahu, dan yang awalnya tidak bisa menjadi bisa. Hal ini dapat dilakukan dengan membuat suasana belajar yang menyenangkan tentunya.

3. Membiasakan anak dengan bekal makanan sehat

Membawa bekal makanan sehat itu selain bermanfaat untuk kesehatan juga bisa meminimalisir pengeluaran. Tapi the most important sih untuk kesehatan. Apalagi yang namanya anak usia dini itu masanya golden age dimana 80% otak berkembang pada umur 0-6 tahun [1]. Hal ini sangat penting memberikan supply makanan sehat untuk perkembangan anak.

4. Membangun budaya literasi

Hampir semua sekolah di 18 negara dalam buku ini menerapkan wajib baca dengan minimal waktu yang beragam, minimal sehari 15 menit sebelum memulai pelajaran. Saya sangat setuju dengan budaya literasi ini karena pada dasarnya literasi adalah modal utama dalam meningkatkan mutu pendidikan. Menteri Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan (PMK) Puan Maharani di gedung Perpustakaan Nasional, Jakarta, Senin (26/3/2018) mengungkapkan bahwa rata-rata orang Indonesia hanya membaca buku 3-4 kali per minggu, dengan durasi waktu membaca per hari rata-rata 30-59 menit. Sedangkan, jumlah buku yang ditamatkan per tahun rata-rata hanya 5-9 buku [2]. Menurut PISA, Indonesia menempati peringkat literasi 64 dari 72 negara dan menurut The World Most Literate Nation Study menempati peringkat 60 dari 61 negara [3]. Hal ini sangat disayangkan Indonesia hampir berada pada level terendah tingkat literasi dunia. Maka mari meningkatkan budaya literasi mulai dari diri sendiri dan menjadi contoh bagi lingkungan sekitar.

5. Belajar bahasa asing dan juga bahasa ibu sejak dini

Indonesia juga telah menerapkan pembelajaran bahasa asing dan bahasa ibu sejak dini sama halnya dengan 18 negara pada buku ini. Namun menurut saya ketidakadanya konsistensi dan kurangnya peningkatan kualitas pengajar akan bahasa asing menjadikan bahasa asing sulit diterima oleh sebagian anak. Akan lebih bagus jika bahasa asing ini tidak hanya menjadi mata pelajaran namun juga be practice mungkin untuk anak SD kelas 4, 5, 6 atau mungkin diatas level SD pembelajaran bisa pure english. Perlu kita ketahui bahwa bahasa inggris adalah bahasa internasional, dimana akan memudahkan setiap orang dan tentunya siswa dalam menimba ilmu dari sumber manapun.

6. Pemberian award setiap prestasi

Bagi saya pribadi award sangatlah penting. Bukan seberapa besar kecil yang diberikan namun value yang ada di dalamnya sebagai motivator diri untuk menjadi lebih baik. Hal ini tentunya sangat penting bagi anak-anak yang tentunya masih dalam tahap awal belajar. Selain meningkatkan motivasi, award juga akan meningkatkan jiwa kompetisi sehat diantara siswa untuk menjadi lebih unggul atau kalau di Singapura disebut sebagai kiasu.

7. Sistem pendidikan yang mengedepankan zonasi

Sistem zonasi menurut saya sangat bagus dengan memprioritaskan siswa bersekolah pada zona yang lebih dekat dengan tempat tinggal maupun kantor dimana orang tua bekerja. Hal ini sangat memudahkan orang tua dalam mengantar jemput anak dan tentunya keamanaan selain itu juga akan lebih cepat ketika terjadi suatu hal urgent yang mengharuskan orang datang ke sekolah. Sistem zonasi ini sangat efektif diterapkan di 18 negara dalam buku ini tentunya karena didukung dengan siste pendidikan dengan kualitas yang sama di setiap daerah negara tersebut. Untuk penerapannya di Indonesia menurut saya masih kurang efektif dimana kualitas pendidikan antar daerah masih belum rata terutama untuk daerah kota dan daerah 3T (Terluar, Terdepan, Tertinggal). Hal ini dapat menimbulkan kecemburuan sosial untuk daerah 3T.

8. Biaya sekolah gratis dan fasilitas lengkap

Biaya sekolah gratis tetunya sangat mendukung program wajib belajar yang dicanangkan pemerintah. Ketika pemerintah memberikan suatu kewajiban, ada hak yang seharusnya didapat para pengemban kewajiban. Dalam hal ini dapat berupa support fasilitas, sarana maupun biaya seperti pada sekolah-sekolah luar negeri. Tidak fair rasanya ketika kewajiban yang diberikan malah akan menjadi beban. Ketika biaya sekolah dibebaskan pun fasilitas terpenuhi maka semangat belajar pun akan meningkat. Pada akhirnya peningkatan mutu belajar tersebut akan meningkatkan kualitas SDM dan akan kembali ke negara itu juga.

Sejauh ini ada 8 hal yang saya dapatkan dari buku Asyiknya Belajar di 5 Benua. Jika ada tambahan atau mungkin ada perbedaan persepsi boleh banget loh diskusi melalui kolom komentar. Mari memanfaatkan media sosial untuk Indonesia yang lebih baik.

Ada dua hal yang menurut saya sangat menarik dari sistem pendidikan di Republik Ceko dengan Montessori Education System dan panjangnya cuti melahirkan di Swedia.

prague
Czech Republic (biradambirbebek.com)

Pendekatan Montessori dalam proses belajar mengajar di IMSP (International Montessori School of Prague) dengan akreditasi penuh dari  American Montessori Society (AMS) menekankan untuk mengakui keunikan setiap anak sebagai seorang individu serta memfasilitasi pertumbuhan potensi anak sesuai dengan tahap tumbuh kembangnya [Nova, 2018] [4]. Untuk pendekatan Montessori ini ilmu saya masih belum cukup namun seketika saya baca penerapannya di IMSP saya sangat tertarik untuk mempelajari lebih lanjut. The next semoga bisa posting tentang Pendekatan Montessori.

img33499-view-over-stockholm-city-centre
Sweden (res.cloudinary.com)

Pemerintah Swedia telah memfasilitasi orang tua untuk secara penuh mengasuh anak melalui cuti berbayar (paid parental leave) sebanyak total 480 hari atau 16 bulan per anak. Swedia memang salah satu negara paling dermawan soal parental leave, hal ini sedikit banyak juga dipengaruhi nilai kemandirian setempat dimana babysitter atau menitipkan anak ke orang tua adalah hal yang tidak lazim. Biasanya selama setahun pertama, orang tua akan bergantian menjaga anak di rumah hingga masanya anak bisa masuk preschool barulah mereka akan bekerja full lagi. Sehingga tak aneh jika di Swedia seorang ayah mendorong stroller tanpa ditemani pasangan, atau bahkan playdate para ayah tanpa didampingi istri [Dery, 2018] [4]. Saya sangat sepakat dengan sistem pemerintah Swedia yang menjadikan keluarga dan parenting menjadi prioritas  utama disamping pekerjaan orang tua. Mungkin hal ini juga perlu diterapkan di Negara Indonesia ataupun negara lain.

Sekian postingan saya. Semoga bermanfaat.

Referensi :

[1] https://edukasi.kompas.com/read/2015/09/01/13424401/PAUD.untuk.Semua.Memaksimalkan.Golden.Age.Anak-Anak.Indonesia

[2] https://nasional.kompas.com/read/2018/03/26/14432641/per-hari-rata-rata-orang-indonesia-hanya-baca-buku-kurang-dari-sejam

[3] https://www.republika.co.id/berita/nasional/news-analysis/18/04/20/p7gq3m282-indonesia-dilanda-kedangkalan-literasi-part1

[4] Refnita, Efa., Akbas, Dian., Y., Nova, 2018, Asyiknya Belajar di 5 Benua, Surakarta, Ziyad Viva Mandiri


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.