Alokasi Frekuensi untuk Layanan Siaran TV Digital Sesuai Peraturan Kominfo 2018

LATAR BELAKANG

Pada dasawarsa 1990 – 2000 kemajuan teknologi digital telah menyebabkan perangkat tertentu dalam industri siaran TV yang bekerja dengan teknologi analog secara berangsur digantikan dengan perangkat yang bekerja dengan teknologi digital, misalnya alat perekam, kamera-video, dan perangkat pengeditan (perangkat editing). Hal tersebut dilakukan, antara lain, atas pertimbangan teknis karena adanya beberapa keunggulan penggunaan teknologi digital, antara lain tidak terjadinya penurunan kualitas sinyal walaupun telah dilakukan berbagai manipulasi terhadap sinyal tersebut. Teknologi digital terkait erat dengan teknologi yang digunakan dalam dunia komputer (teknologi informasi). Manfaat yang sangat berarti dalam penggunaan teknologi digital ialah menghemat penggunaan lebar pita (bandwidth) spektrum frekuensi radio karena adanya teknik kompresi terhadap sinyal tersebut.

Dalam dasawarsa tersebut di atas, teknologi digital telah diterapkan pada siaran satelit TV Direct-to-Home (DTH) atau siaran TV langsung dari satelit dan siaran-siaran stasiun TV nasional untuk kebutuhan relai siaran nasionalnya. Setelah diterapkan dalam sistem penyiaran satelit, perkembangan teknologi digital kemudian diterapkan pada sistem siaran TV terestrial. Terdapat (dua) pertimbangan diterapkannya teknologi digital pada sistem siaran TV terestrial, yaitu :

  1. Untuk meningkatkan kualitas penerimaan siaran TV. Dibandingkan dengan analog, kelebihan sinyal yang diproses secara digital adalah terletak pada ketahanannya terhadap derau dan kemudahannya untuk diperbaiki (recovery) pada bagian penerimanya dengan suatu mekanisme kode koreksi kesalahan (error correction code). Penggunaan modulasi Orthogonal Frequency Division Multiplexing (OFDM) yang tangguh dalam mengatasi efek lintas jamak juga akan menghilangkan gema (echo) yang mengakibatkan munculnya gambar ganda yang sangat menganggu kenikmatan menyaksikan siaran televisi.
  2. Untuk menghemat penggunaan lebar pita (bandwidth) spektrum frekuensi radio. Dengan teknologi digital membuat konsumsi lebar pita (bandwidth) menjadi lebih efisien karena penggunaan teknik kompresi pada sistem pemrosesan sinyalnya, sehingga yang pada awalnya 1 (satu) kanal frekuensi radio hanya dapat digunakan untuk menyalurkan 1 (satu) program siaran, dengan teknologi digital dapat digunakan untuk menyiarkan lebih dari 1 (satu) program siaran.

SPEKTRUM FREKUENSI TV DIGITAL

Standar DVB-T sebagai standar penyiaran televisi digital teresterial dipilih disebabkan sistem ini dipandang paling menguntungkan karena menawarkan beberapa kelebihan. Dibandingkan dengan sistem ATSC (Advanced Television SistemComittee) yang mengembangkan standar single carrier 8-VSB (8-level vestigial side-band) dan dipakai di negara Amerika Serikat, Kanada dan Argentina, Sistem standar ISDB-T (integrated serviced digital broadcasting), juga teknologi T-DMB (terrestrial digital mobile broadcasting) dari Korea dan DMB-T (digital mobile broadcasting terrestrial) dari China, standar DVB-T diyakini mampu memberikan solusi efisiensi bandwidth dengan teknologi multiplexing. Teknologi multiplexing ini memungkinkan dilakukannya pelebaran kanal frekuensi saluran televisi. Dalam sistem analog, satu kanal hanya bisa diisi satu frekuensi, sedangkan dalam sistem digital satu kanal bisa di isi dengan lebih dari enamfrekuensi sekaligus. Hal ini dimungkinkan karena dalam sistem digital pelebaran frekuensi bisa dilakukan. Apalagi apabila ada penambahan varian DVB-H (handheld) mampu menyediakan tambahan sampai enam program siaran lagi, khususnya untuk penerimaan bergerak (mobile). Penyiaran televisi digital juga memiliki keunggulan yaitu signalnya lebih tahan terhadap noise dan kemudahannya untuk diperbaiki, tidak ada lagi antrian atau penolakan ijin siaran bagi rencana pendirian televisi nasional maupun lokal karena keterbatasan frekuensi. Penyiaran TV digital teresterial juga dapat diakses oleh sistem penerimaan fixed dan mobile TV. Teknologi penyiaran digital akanmengakibatkan konvergensi media menjadi semakin tajam. Konvergensi antarteknologi terjadi antara teknologi penyiaran (broadcasting), teknologi komunikasi (telepon),dan teknologi informasi (IT).

PENGGUNAAN FREKUENSI TELEVISI DIGITAL

Alokasi frekuensi pada TV digital

Penggunaan frekuensi untuk televisi digital diatur dalam Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika 23/PER/M.KOMINFO/11/2011 tentang Rencana Induk (Masterplan) Frekuensi Radio untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial Pada Pita Frekuensi Radio 478 – 694 Mhz. Dikarenakan adanya penghematan kanal untuk siaran digital, penggunaan frekuensi untuk keperluan digital pada Peraturan Menteri ini pada dasarnya bertujuan untuk menyediakan kanal baru untuk penggunaan telekomunikasi dari sisa penggunaan kanal frekuensi radio untuk penyiaran yang eksisting dari kanal 22 – 62 UHF atau yang disebut Digital Dividend sebesar 112 MHz.

Secara umum, penggunaan frekuensi televisi digital pada rentang 478 – 694 MHz atau kanal 22-49 sebesar 192 MHz dengan alokasi 1 kanal sebesar 8 MHz dibagi menjadi 2 peruntukan yaitu:

  1. INS13B Penggunaan kanal 478- 526 MHz (kanal 22 – 27) direncanakan untuk penyelenggaraan sistem siaran digital masa depan yang akan diatur dalam Peraturan Menteri tersendiri. (TASFRI 2014)
  2. INS13C Penggunaan kanal 526 – 694 MHz (kanal 28 – 49) yang digunakan untuk televisi siaran digital terestrial penerimaan tetap tidak berbayar (Free To Air) yang alokasinya diatur dalam lampiran Peraturan Menteri ini. (TASFRI 2014)

ROADMAP TELEVISI DIGITAL INDONESIA

Menurut Buku Putih Komunikasi dan Informatika Indonesia tahun 2012 roadmap Televisi Digital di Indonesia dibagi menjadi 3 tahapan yaitu :

  1. Tahap I – Persiapan 2009-2013, yaitu tahap permulaan transisi ke televisi digital yang ditandai dengan uji coba lapangan (2009), mengeluarkan perizinan baru untuk TV digital (2010), moratorium izin baru TV analog (2009-2010). Pada tahap ini juga merupakan awal periode simulcast yang direncanakan tahun 2010-2017.
  2. Tahap II – Simulcast 2014-2017, yaitu periode dimana perizinan siaran analog dan digital berjalan bersama-sama. Hal ini ditandai dengan penghentian (cut off) operasional TV analog di kota-kota besar (Daerah Ekonomi Maju /DEM), percepatan izin baru TV digital di Daerah Ekonomi Kurang Maju (DEKM)
  3. Tahap III – Analog Switch Off 2018 yaitu penghentian TV Analog secara total di seluruh Indonesia

Pada tahap simulcast, Kementerian Komunikasi dan Informatika merencanakan pemberian izin untuk beberapa Zona yaitu:

  1. 2012: Jawa dan Kepulauan Riau
  2. 2013: Sumatera Utara dan Kalimantan Timur
  3. 2014: Seluruh Sumatera
  4. 2015: Sulawesi Selatan, Sulawesi Utara, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat
  5. 2016: Kalimantan Selatan dan Seluruh Sulawesi
  6. 2017: Maluku dan Papua

PEMBAGIAN WILAYAH ADMINISTRATIF PENYELENGGARAAN TELEVISI DIGITAL

Lembaga Penyiaran pada televisi digital dalam menyiarkan siaran dibagi berdasarkan wilayah administratif yaitu Zona Layanan dan Wilayah Layanan (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2011a). Zona Layanan merujuk kepada hak penggunaan infrastruktur frekuensi oleh multiplexer sedangkan Wilayah Layanan merupakan batas administratif konten yang dapat disiarkan oleh content provider. Untuk penyelenggaraan televisi digital, Zona Layanan dan Wilayah Layanan diatur pada Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Republik Indonesia Nomor 23/PER/M.KOMINFO/11/2011 tentang Rencana Induk (Masterplan) Frekuensi Radio untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial Pada Pita Frekuensi Radio 478 – 694 Mhz. (Kementerian Komunikasi dan Informatika, 2011a). Adapun Zona Layanan dan Wilayah Layanan (Tabel 1)

PEMBAGIAN ZONA LAYANAN DAN JUMLAH WILAYAH LAYANAN BERDASARKAN PROVINSI (KEMENTERIAN KOMUNIKASI DAN INFORMATIKA, 2011A)

PENYELENGGARAAN TELEVISI SIARAN DIGITAL

Kekacauan pemberian izin frekuensi penyiaran akibat eforia otonomi daerah dan tumpang tindih kewenangan Pemerintah Pusat (Kementerian Kominfo), KPI/KPI-D dan Pemerintah Daerah (Dinas Perhubungan). Hal ini ditambah lagi dengan telah beroperasinya sejumlah Siaran TV analog dan radio siaran AM/FM yang tidak mengikuti master plan frekuensi semisal yang memiliki izin Pemda, rekomendasi KPI/KPI-D, atau bahkan tidak memiliki izin sama sekali.

Televisi digital atau Digital Television (DTV) adalah jenis televisi yang menggunakan modulasi digital dan sistem kompresi untuk menyiarkan sinyal gambar, suara, dan data ke pesawat televisi. Televisi digital merupakan alat yang digunakan untuk menangkap siaran TV digital, perkembangan dari sistem siaran analog ke digital yang mengubah informasi menjadi sinyal digital berbentuk bit data seperti komputer.

Secara teknis, pita spektrum frekuensi radio yang digunakan untuk televisi analog dapat digunakan untuk penyiaran televisi digital. Perbandingan lebar pita frekuensi yang digunakan teknologi analog dengan teknologi digital adalah 1 : 6. Jadi, bila teknologi analog memerlukan lebar pita 8 MHz untuk satu kanal transmisi, teknologi digital dengan lebar pita yang sama (menggunakan teknik multipleks) dapat memancarkan sebanyak 6 hingga 8 kanal transmisi sekaligus untuk program yang berbeda.

Terdapat beberapa standar sistem pemancar televisi digital di dunia, yaitu televisi digital (DTV) di Amerika, penyiaran video digital terestrial (DVB-T) di Eropa, dan layanan penyiaran digital terestrial terintegrasi (ISDB-T) di Jepang. Semua standar sistem pemancar sistem digital berbasiskan sistem pengkodean OFDM dengan kode suara MPEG-2 untuk ISDB-T dan DTV serta MPEG-1 untuk DVB-T.

Dalam rangka persiapan menghadapi implementasi TV digital yang akan datang, Pemerintah telah menyediakan kanal frekuensi untuk keperluan TV digital, yaitu dengan diterbitkannya Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 23 Tahun 2011 tentang Rencana Induk (Master Plan) Frekuensi Radio Untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial Pada Pita Frekuensi Radio 478 – 694 MHz.

Perencanaan frekuensi penyiaran televisi digital terestrial dialokasikan pada pita frekuensi UHF Band IV dan sebagian UHF Band V. Proteksi rasio cochannel dan kanal bertetangga harus diperhatikan untuk menjaga agar tidak terjadi interferensi, baik pada sinyal TV analog maupun pada sinyal TV digital.

Berdasarkan siaran pers No.03/HM/KOMINFO/01/2019 Kamis, 3 Januari 2019 tentang Konsultasi Publik RPM mengenai Masterplan Frekuensi Radio Televisi Siaran Digital Terestrial disampaikan bahwa terdapat perubahan substansi yang cukup signifikan atas Rancangan Peraturan Menteri Komunikasi tentang Rencana Induk Frekuensi Radio untuk Keperluan Penyelenggaraan Multipleksing Televisi Siaran Digital Terrestrial Pada Pita Frekuensi Radio 478 – 694 MHz. Perubahan dimaksud merupakan hasil kajian yang dilakukan oleh Direktorat Jenderal Sumber Daya dan Perangkat Pos dan Informatika Kementerian Kominfo yang baru selesai pada awal Desember tahun 2018. Perubahan substansi yang dimaksud antara lain:

Selain perubahan tersebut, dalam Rancangan Peraturan Menteri yang diuji publik sebelumnya menggabungkan 4 (empat) Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika, sedangkan Rancangan Peraturan Menteri ini menggabungkan 5 (lima) Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika, yaitu:

  1. PM Kominfo Nomor 23/PER/M.KOMINFO/11/2011 tentang Rencana Induk (Masterplan) Frekuensi Radio untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial pada Pita Frekuensi Radio 478 -694 MHz;
  2. Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor: 05/PER/M.KOMINFO/2/2012 tentang Standar Penyiaran Televisi Digital Terestrial Penerimaan Tetap Tidak Berbayar (Free-To-Air);
  3. PM Kominfo Nomor 22 Tahun 2012 tentang Penggunaan Pita Spektrum Frekuensi Radio Ultra High Frequency pada Zona Layanan IV, Zona Layanan V, Zona Layanan VI, Zona Layanan VII, dan Zona Layanan XV untuk Keperluan Transisi Televisi Siaran Digital Terestrial;
  4. PM Kominfo Nomor 8 Tahun 2013 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Komunikasi dan Informatika Nomor 23/PER/M.KOMINFO/11/2011 tentang Rencana Induk (Masterplan) Frekuensi Radio untuk Keperluan Televisi Siaran Digital Terestrial pada Pita Frekuensi Radio 478 -694 MHz; dan
  5. PM Kominfo Nomor 17 Tahun 2013 tentang Penggunaan Pita Spektrum Frekuensi Radio Ultra High Frequency pada Zona Layanan I dan Zona Layanan XIV untuk Keperluan Transisi Televisi Siaran Digital Teresterial.

SISTEM PENYIARAN TV DIGITAL STANDAR DVB

Upaya pengembangan DVB sebagai standar global untuk penyiaran televisi digital berawal dari pembentukan DVB Project pada 11 September 1993 yang sebelumnya bernama European Launching Group (ELG). DVB Project beranggotakan sekitar 250-300 institusi yang berasal dari 30-an negara dan terdiri dari broadcaster, manufaktur, network operator, badan regulasi dan institusi akademik. Project DVB tidak menjalankan fungsi sebagai regulator melainkan bekerja berdasarkan aspek bisnis dan komersial.

Dalam perkembangan selanjutnya proyek DVB telah berhasil mengembangkan serangkaian spesifikasi DVB yang tidak terbatas pada video broadcasting namun juga telah merambah hingga ke aplikasi dan layanan multimedia yaitu DVB-S2, DVB-S (generasi kedua dan pertama dari sistem digital satelit), DVB-C (sistem kabel digital), DVB-T (Sistem penyiaran digital terestrial), DVB-H (sistem penyiaran digital dengan penerima handheld), DVB-DATA (the Cyclical Data Delivery System), DVB-SI (Sistem pelayanan informasi), dan DVB-MHP (middleware untuk TV interaktif).

DVB-S yang digunakan pada sistem penyiaran satelit dikembangkan tahun 1993 berbasis pada teknik modulasi QPSK, sedangkan DVB-C yang dikembangkan tahun 1994 berbasis pada 64QAM. Untuk sistem penyiaran digital terestrial DVB-T menggunakan OFDM dengan modulasi QAM dengan 2 mode yaitu 2K untuk menangani efek doppler dan 8K untuk menangani multipath.

Saat ini, DVB Project mengembangkan DVB-S2 dengan menggunakan 8-PSK dan turbo coding untuk penyiaran sistem TV digital satelit dengan tujuan untuk meningkatkan efisiensi, sedangkan untuk sistem penyiaran TV digital terestrialnya dikembangkan DVB-H yang berbasis pada internet protocol (IP).

Perbandingan BER pada DVB-T dan DVB-H

dan menggunakan modulasi OFDM-4K dengan sistem video kompresi MPEG4 AVC atau SMPTE VC1 sehingga lebih efisien dan dapat diterima perangkat handheld (time slicing). Gambar 3.12 menunjukkan perbandingan kinerja antara DVB-H dan DVB-T dalam mengatasi pengaruh efek Doppler.

Implementasi penyiaran TV digital DVB di Eropa diawali tahun 1995 berupa penyiaran TV berlangganan dengan operator Canalplus di Perancis, sedangkan untuk penyiaran TV digital terestrial DVB-T diterapkan tahun 1997, 1998 dan 2002 masingmasing di Swedia, Inggris dan Jerman. Untuk di Eropa peralihan ke sistem digital pertama kalinya dilakukan di Berlin tahun 2003.

Standar penyiaran TV digital DVB dikembangkan berdasarkan latar belakang pentingnya sistem penyiaran yang bersifat terbuka (open system) yang ditunjang oleh kemampuan interoperability, fleksibilitas dan aspek komersial. Sebagai suatu open system, maka standar DVB dapat dimanfaatkan oleh para vendor untuk mengembangkan berbagai layanan inovatif dan jasa nilai tambah yang saling kompatibel dengan perangkat DVB dari vendor lain.

Selain itu, standar DVB memungkinkan terjadinya cross-medium interoperability yang memungkinkan berbagai media delivery yang berbeda dapat saling berinteroperasi. Salah satu aspek dari interoperability adalah bahwa semua perangkat yang DVBcompliant dari vendor yang berbeda dapat dengan mudah saling terhubung dalam satu mata rantai penyiaran. Untuk mengetahui standar DVB banyak dokumentasi yang bisa didapatkan di http://www.dvb.org atau http://www.etsi.org, seperti beberapa informasi standar DVB-T antara lain ETSI EN 300 744 V1.5.1 (2004-11) yang berisi tentang framing structure, channel coding and modulation for digital terrestrial television; ETSI TR 101 190 V1.2.1 (2004-11) yang berisi tentang Implementation guidelines for DVB terrestrial services; Transmission aspects; dan ETSI TS 101 191 V1.4.1 (2004-06) yang berisi tentang DVB mega-frame for Single Frequency Network (SFN) synchronization.

Referensi :

Amirudin, 2016, Makalah : Analisis Optimalisasi Spektrum Frekuensi Radio pada TV Digital,
https://www.academia.edu/20299741/ANALISIS_OPTIMALISASI_SPEKTRUM_FREKUENSI_RADIO_PADA_TV_DIGITAL, Universitas Mercu Buana.

Budiarto, H., dkk, ____, Sistem TV DIGITAL dan Prospeknya di Indonesia, Jakarta


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.