Hal-Hal Yang Disunahkan Saat I’tikaf

Untuk penjelasan tentang hal-hal yang dianjurkan pada saat i’tikaf langsung kita baca, penjelasan Imam an-Nawawi dalam kitab al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab berikut:

قال الشافعي والأصحاب فالأولى للمعتكف الاشتغال بالطاعات من صلاة وتسبيح وذكر وقراءة واشتغال بعلم تعلما وتعليما ومطالعة وكتابة ونحو ذلك ولا كراهة في شئ من ذلك ولا يقال هو خلاف الأولى هذا مذهبنا وبه قال جماعة منهم عطاء والأوزاعي وسعيد بن عبد العزيز

“Imam Syafi’i dan para Ashab berkata “Hal yang utama bagi orang yang beri’tikaf adalah menyibukkan diri dengan keta’atan dengan melaksanakan shalat, bertasbih, berdzikir, membaca Al-Qur’an dan menyibukkan diri dengan ilmu dengan cara belajar, mengajar, membaca (muthola’ah) dan menulis serta hal-hal sesamanya. Tidak dihukumi makruh dalam melaksanakan satupun dari hal-hal di atas, dan tidak bisa disebut sebagai menyalahi hal yang utama (Khilaf al-Aula). Ketentuan ini merupakan pijakan madzhab kita (Madzhab Syafi’i), dan pendapat ini diikuti oleh golongan ulama’, seperti Imam ‘Atha, al-Auza’i, Sa’id bin Abdul Aziz” (Syekh Yahya bin Syaraf an-Nawawi, al-Majmu’ ala Syarh al-Muhadzab, Juz 6, Hal. 528)

Dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji ‘ala al-Madzhab al-Imam as-Syafi’i juga dijelaskan lebih rinci tentang kesunnahan saat melaksanakan i’tikaf:

يستحب للمعتكف الاشتغال بطاعة الله تعالى، كذكر الله تعالى، وقراءة القرآن، ومذاكرة العلم، لأنه أدعى لحصول المقصود من الاعتكاف.
2ـ الصيام، فإن الاعتكاف مع الصيام أفضل. وأقوى على كسر شهوة النفس وجمع الخاطر وصفاء النفس.
3ـ أن يكون الاعتكاف في المسجد الجامع، وهو الذي تقام فيه الجمعة.
4ـ أن لا يتكلم إلا لخير، فلا يشتم، ولا ينطق بغيبة، ونميمة، أو لغو من الكلام.

“Disunnahkan bagi orang yang melaksanakan i’tikaf untuk melakukan beberapa hal

Pertama, menyibukkan diri dengan melaksanakan ketaatan pada Allah, seperti berdzikir, membaca Al-Qur’an dan diskusi keilmuan. Sebab melaksanakan hal-hal ini akan menuntun terhadap maksud dari pelaksanaan i’tikaf.

Kedua, berpuasa. Sesungguhnya i’tikaf dalam keadaan berpuasa itu lebih utama dan, kuat dalam memecah syahwat hawa nafsu, dapat memfokuskan pikiran dan menyucikan hati.

Ketiga, melaksanakan i’tikaf di masjid jami’, yakni masjid yang didirikan shalat jum’at.

Keempat, tidak berbicara kecuali perkataan yang baik. Ia tidak diperkenankan untuk mengumpat, menggunjing, adu domba, dan perkataan yang tidak ada gunanya” (Dr. Mushtofa Said al-Khin dan Dr. Mushtofa al-Bugha, al-Fiqh al-Manhaji ‘ala al-Madzhab al-Imam as-Syafi’i, Juz 2, Hal. 108)

Kesunnahan melaksanakan i’tikaf dalam keadaan berpuasa dalam referensi di atas tentu yang dimaksud adalah ketika i’tikaf dilaksanakan pada siang hari. maka dapat kita pahami bahwa i’tikaf di siang hari dalam keadaan berpuasa dipandang lebih utama dibanding i’tikaf di malam hari. Namun hal demikian tidak berlaku pada i’tikaf yang dilaksanakan pada sepuluh malam terakhir di bulan ramadhan, sebab malam-malam tersebut memiliki kekhususan berupa turunnya lailatul qadar. Sehingga i’tikaf pada sepuluh malam ini memiliki keutamaan tersendiri.

Maka sebaiknya bagi orang yang melaksanakan i’tikaf agar memperhatikan terhadap kesunnahan-kesunnahan pada saat i’tikaf yang telah dijelaskan di atas, serta mengamalkannya dengan penuh khidmat dan kekhusyu’an, sebab i’tikaf yang paling utama adalah i’tikaf yang di dalamnya banyak di isi dengan amal ibadah, berdasarkan kaedah “ma kaana aktsara fi’lan kaana aktsara fadlan” (sesuatu yang lebih banyak bentuk perbuatannya maka lebih banyak pula keutamaannya).

Sumber : Grup Berani berhijrah 177


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.