Konsep Hidup Zero Waste, Minimalism, Dan Budaya Masyarakat

Topik yang tidak terfikirkan sebelumnya, tetiba saja mengalir ingin tjuerhat soal konsep ini. Bwt mengenai konsep hidup sehat, minimalism, dan zero waste sudah sy rencanakan untuk dishare di blog, namun belum sempat insyaAllah diusahakan nanti klo longgar dan mood tentunya. Baru sempat share mengenai Menjadi Flexitarian.

Jadi tetangga saya sedang ada kondangan dan kedua orang tua membantu acara tersebut, istilah jawanya ‘sinoman’ (membantu). Biasa budaya masyarakat desa jika ada hajatan tetangga pastinya saling gotong royong bantu masak pun menyiapkan acara.

Btw mohon maaf sebelumnya, tidak ada maksud selain sekedar sharing mengenai zero waste dan minimalism.

Seharian ini sy di rumah sendiri, orang tua dan adek ‘nyinom’ di kondangan tetangga. Budaya di daerah saya, siang hari dan selesai acara (tengah malam) biasanya diberi makanan nasi 1 atau 2 giling (ukuran 1 bola footsal = 2 giling) beserta lauknya mie bihun, orek tempe (?), tempe bacem, kerupuk yang klo sekarang lebih banyak dibungkus menggunakan kertas minyak.

Mohon maaf lahir dan batin bukannya tidak bersyukur, namun beberapa dan saya juga terkadang bosan dg menu yang sama ditambah dengan hajatan beruntun seminggu 3 atau 4 kali. Alhasil makanan tersebut tidak termakan dan akhirnya untuk pakan ayam atau malah basi.

Hal yang disayangkan disini adalah makanan. Jika misal ada 20 tetangga brti ada 20 porsi makanan yang terbuang sia-sia. Padahal untuk membeli bahannya saja butuh uang yang lumayan apalagi beras, belum lagi tenaga dari tetangga yang membantu. Selain itu bungkus yang dipakai juga menambah sampah plastik yang mana setiap porsi paling tidak butuh 4 lembar sehingga jika misal ada 20 porsi x 2 (siang malam) x 4 lembar jadi 160 lembar kertas minyak. Wowww amazing…

Hal ini menggugah saya untuk menyampaikan opini saya tersebut kepada ibu saya.

S saya.

I ibu.

S : bu kek gini sepertinya malah mubadzir. Sayang makanan ga kemakan, pdhl sdh capek2 masak belum juga modal buat beli bahan. Gimana kalau mulai dari keluarga kita nanti klo ada hajatan pakai catering saja, harganya sama dan ga capek dan tentunya ga mubadzir juga. Atau kalau mau tetap bagi2 yaa paling ga sesuaikan dengam porsi dan bungkusnya ganti daun atau pakai rantang saja. Kan lebih ramah lingkungan dan ga ada yg mubadzir kebuang, enak lagi tinggal duduk.

I : sudah menjadi budaya. Harus bisa ‘umum sanak’ masa mau beda sendiri. Justru disilah kita bisa silaturahmi ketemu tetangga.

Benar juga, positifnya disitulah moment untuk saling mempererat silaturahmi dgn tetangga.

Namun memang jika sudah menjadi budaya susah untuk dirubah. Eh bukan merubah sih, tapi klo ada cara yang lebih efektif dan efisien, lebih bermanfaat tentunya selama tidak merubah pun menghapus inti dari budaya tsb why not. Susah memang mensosialisasikan konsep hidup zero waste kepada masyarakat yang notabennya awam dengan konsep itu. Lha wong sy yg tiap hari ceramah sampah plastik ke keluarga saja syusahnya masyaAllah pdhl sudah hampir 2 tahun tapi masih sama saja apalagi sosialisasi ke masyarakat. Namun selama konsep hidup yang dijalankan lebih baik dan bermanfaat tanpa merubah atau menghilangkan inti dri budaya kenapa tidak.

Semangatttt semoga masyarakat semakin sadar akan pentingnya konsep hidup sehat, zero waste, dan minimalism.

Bagaimana opinimu? Tulis di komentar ya 🙂

Yogya, 10 Juni 2019


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.